Review

Saturday, January 20, 2018

Friday, January 19, 2018

[Friday Fashion] Because This Is My First Life’s Yoon Ji Ho

I love seeing how Yoon Ji Ho of Because This Is My First Life styled herself. She doesn’t have fancy style, but everything she wore look great and in style.

In terms of clothing, it seems like Yoon Ji Ho loves wearing something simple and warm. As for shoes, I saw that she likes wearing sneakers or high heel boots.





In contrast to her casual style outside, Yoon Ji Ho prefers to wear something more feminine inside her apartment.


Thursday, January 18, 2018

Rekomendasi Film Korea Untuk Newbie – Part 3 (Genre Romance)

 My favorite kind of movie! Saya adalah sebagian dari wanita-wanita mainstream yang hobi banget nonton film romance, apalagi kalau film indie-romance, entah kenapa rasanya film-film indie tuh sisi romance-nya suka lebih bisa bikin saya ngomong “Gila…gila…” pas lagi nonton. Nah, di part ketiga ini saya mau merekomendasikan dua film Korea ber-genre romance yang menurut saya cocok untuk ditonton oleh newbie yang baru ingin mencoba nonton film Korea.

The Beauty Inside (2015)


Saya sudah jatuh cinta dengan film ini begitu melihat trailer-nya. Keunggulan film ini bukan hanya karena dibintangi oleh banyak aktor dan aktris terkenal saja. Jalan cerita dan original soundtracks film ini juga pantas diacungi jempol. Film ini sendiri terinspirasi dari film pendek  besutanIntel dan Toshiba dengan judul yang sama.
“The Beauty Inside” menceritakan kisah seorang furniture designer bernama Woo Jin yang terbangun dengan tubuh, umur, jenis kelamin dan kewarganegaraan yang berbeda setiap harinya. Kadang ia bangun sebagai seorang wanita, seorang pria, seseorang yang berumur tua, berumur muda dan bahkan orang asing. Ia adalah orang yang sama di dalam dirinya, namun diluar, ia selalu menjadi seseorang yang baru setiap harinya. Suatu hari, ia bertemu dengan gadis bernama Yi Soo (Han Hyo Joo). Ia pun mulai mencintai gadis tersebut dan berusaha mendekati Yi Soo dengan keadaannya yang berubah-ubah setiap hari.

Menurut saya, penggemar film romantis wajib banget nonton film ini. “The Beauty Inside” berhasil menggambarkan bagaimana rasa jatuh cinta yang sebenarnya. Kalau kalian pernah mendengar kalimat yang berbunyi “Cinta tak mengenal fisik dan usia,” maka film ini adalah gambaran tepat dari pernyataan tersebut. Meskipun Woo Jin adalah pemeran utama dalam kisah ini, namun dalam “The Beauty Inside,” penonton justru diajak mengarungi kehidupan Yi Soo. Bagaimana ia menghadapi Woo Jin dan “keunikan”-nya, bagaimana ia  menghadapi kehidupan sosial yang tak selamanya berjalan searah dengan keadaan hatinya dan bagaimana ia menjalani kehidupannya yang berubah 360 derajat setelah bertemu Woo Jin.

Saya harus mengacungkan kedua jempol untuk tim casting yang memilih Han Hyo Joo sebagai aktris yang memerankan tokoh Yi Soo. Menurut saya, Han Hyo Joo adalah seorang aktris yang kecantikannya natural dan entah mengapa saya tak pernah menemukan sisi jelek dari aktris satu ini. Sebagai Yi Soo, Han Hyo Joo sangat memukau. 


“The Beauty Inside” sendiri memiliki skor 7,3/10 di IMDB. Film ini akan dibuat ulang oleh Amerika Serikat dengan judul yang sama dan akan dirilis di tahun ini. Pemeran utama wanita akan diperankan oleh Emilia Clarke. Selain itu, “The Beauty Inside” juga akan diadaptasi ke dalam drama korea. Namun dalam drama, toko protagonis Woo Jin akan diperankan oleh seorang wanita.

Trailer “The Beauty Inside” ->klik disini.

A Moment to Remember (2004)


Jangan lupa untuk menyiapkan tissue sebelum menonton film ini. Biarpun film ini sekarang tergolong sebagai film “jadul,” namun dari segi cerita, film ini ga jadul sama sekali. Produksi-nya pun masih cukup bagus ko dibandingkan dengan produksi-produksi film keluaran tahun 2010 ke atas. “A Moment to Remember” digadang-gadang sebagai salah satu film romantis terbaik di Korea. Film ini sendiri diadaptasi dari drama TV Jepang yang berjudul “Pure Soul.”
“A Moment to Remember” menceritakan kisah cinta antara pasangan suami istri Soo Jin (Son Ye Jin) dan Chul Soo (Jung Woo Sung). Saat semua terasa sempurna untuk pasangan ini, Soo Jin tiba-tiba menderita Alzheimer. Penyakit yang diidap Soo Jin menjadi perekat sekaligus tantangan  bagi cinta  keduanya.

Ada salah satu adegan di film ini yang masih sangat membekas di benak saya. Sedikit spoiler nih, ada adegan dimana Soo Jin yang sudah mengidap Alzheimer dengan tidak sadar buang air kecil ketika keluarganya sedang berkumpul di rumah Soo Jin dan Chul Soo. Apa yang dilakukan Chul Soo saat itu adalah salah satu hal paling romantis dan termenyayat hati di film ini. Saya tidak mau menceritakan lebih lanjut, karena nanti takutnya feel-nya tidak terasa ketika kalian menonton film ini.


“A Moment to Remember” punya skor 8,2/10 di IMDB. Menurut wiki, film ini akan dibuat ulang oleh Amerika, dimana aktris Katherine Heigl dipilih sebagai pemeran utama film ini. Ketika saya cari di IMDB, ternyata American remake dari film ini masih berada di dalam kategori “in development.”

Trailer “A Moment to Remember” -> klik disini.

Wednesday, January 17, 2018

Rekomendasi Film Korea Untuk Newbie – Part 2 (Genre "Based on True Story")

Sebenarnya banyak film-film Korea bagus yang didasarkan oleh kisah nyata, tapi sayangnya saya baru bisa merekomendasikan dua film ini saja karena saya belum menonton film-film outstanding lainnya yang diambil dari kisah nyata. Tapi…dua film ini ga kalah outstanding-nya ko.

The Last Princess (2016)


Film ini cocok untuk kalian yang ingin belajar mengenai sejarah suatu Negara melalui cara yang lebih menyenangkan, yaitu menonton. Menonton film ini membuat saya belajar sedikit mengenai sepenggal sejarah Korea dan membuat saya sadar tak selamanya kehidupan seorang “Putri” itu menyenangkan.
“The Last Princess” menceritakan kisah Putri Deokhye, putri terakhir dari Dinasti Joseon. Saat usianya masih 13 tahun, putri Deokhye dipaksa untuk pindah ke Jepang dan sekolah disana, karena keberadaannya di Korea dianggap membahayakan keberadaan pemerintah  Kekaisaran Jepang di Korea. Dibantu dengan beberapa aktivis, ia berjuang untuk kembali ke tanah kelahirannya.

Patriotik. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan Putri Deokhye. Sebagai seorang putri, ia benar-benar merasa bertanggung jawab pada bangsa dan negaranya. Saat menonton film ini dan melihat hari-hari yang dilalui Putri Deokhye di Jepang, saya merasakan bagaimana tersiksanya ia. Film ini menyuguhkan banyak adegan-adegan mengharukan yang membuat saya semakin mencintai kebudayaan Korea.  Alur film ini sangat rapih dan bisa membuat penontonnya engage dari awal sampai dengan akhir film. Aktris Son Ye Jin, yang memerankan karakter Putri Deokhye, berhasil menunjukkan penampilan terbaiknya. Menurut saya, akting Son Ye Jin adalah satu satu elemen kuat dari film ini.

salah satu adegan ter-menyayat-nyayat hati

“The Last Princess” memiliki skor 7/10 di IMDB. Film ini juga sukses menuai review positif dari beberapa kritikus film. Menurut salah seorang kritikus film Korea, film ini memberi sentuhan baru mengenai film yang diangkat dari kisah nyata masa kependudukan Jepang di Korea.

A Taxi Driver (2017)


Ini nih, film yang dibintangi dengan apik oleh calon suami saya, Ryu Jun Yeol (in your dream, honey, in your dream). Film ini mengangkat seorang “pahlawan” yang tidak dikenal banyak orang sebagai tokoh sentral. Meskipun beberapa bagian dari film ini adalah fiksi, namun film ini tetap diangkat dari kisah nyata mengenai bagaimana seorang jurnalis asal Jerman menguak kisah pembantaian di Gwangju oleh diktator Chun Doo Hwan. Sebelum liputan jurnalis tersebut, dunia, bahkan warga Korea Selatan sendiri menganggap kalau keberadaan militer di Gwangju adalah untuk melindungi warga dan korban-korban yang meninggal adalah anggota militer. Namun, J├╝rgen Hinzpeter – jurnalis asal Jerman – menguak kalau yang selama ini dilaporkan di media elektronik dan media cetak adalah kebohongan. Dalam perjalanannya mencari kebenaran di Gwangju, Hinzpeter ditemani oleh seorang supir taksi. Dan si supir taksi inilah seorang “pahlawan” tersembunyi, yang menjadi karakter utama di film ini.
“A Taxi Driver” menceritakan kisah seorang supir taksi yang secara tidak sengaja ikut terlibat dalam peliputan jurnalis asal Jerman mengenai “Gerakan Demokrasi Gwangju” yang terjadi di Korea di tahun 1980 silam.

Tegang. Itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya ketika menonton film ini. Melihat bagaimana Hinzpeter merekam adegan demi adegan yang terjadi di Gwangju dan bagaimana ia, dan beberapa orang baik yang membantunya, mempertahankan hasil liputannya sungguh mendebarkan. Banyak rasa yang disajikan “A Taxi Driver.” Penonton diajak tertawa saat melihat lucunya tingkah sang taxi driver, menangis ketika melihat keinginan kuat serta keterikatan warga Gwangju untuk mempertahankan kemerdekaannya dan tegang ketika melihat anak buah Chun Doo Hwan berusaha untuk mengambil hasil liputan Hinzpeter.

yang baju garis-garis jangan sampe lewat <3

"A Taxi Driver" memiliki skor 7,9/10 di IMDB. Film ini sempat masuk seleksi "Best Foreign Language Film" untuk ajang 90th Academy Award, namun tak sampai dinominasikan.

Tuesday, January 16, 2018

Rekomendasi Film Korea Untuk Newbie – Part 1 (Genre Horor)

Saya sering menemukan beberapa orang yang terkesan meng-underestimate film Korea. Terkadang mereka sudah ragu dengan kualitas film Korea bahkan sebelum menonton satu saja film dari Negeri Ginseng tersebut. Nah, di post ini, saya ingin berbagi rekomendasi beberapa film Korea yang menurut saya tak kalah menarik dan bagus dari film-film Hollywood. Karena selera orang berbeda-beda – ada yang lebih suka menonton film action, ada yang lebih suka menonton film komedi romantis (nayana nayana!) – maka saya memutuskan untuk membagi rekomendasi film Korea ini berdasarkan genre-nya. So, fellas, let’s get right into it.

Genre Horor – The Wailing (2016)

Sebelumnya saya minta maaf nih, saya hanya bisa merekomendasikan satu film saja dari genre ini karena saya adalah seorang penakut akut yang super jarang nonton film horor. Kalau ga penasaran sama film-nya, saya lebih baik mendengar cerita orang saja atau membaca recap mengenai film horor.


Saat saya memutuskan untuk nonton film “The Wailing,” yang ada di dalam benak saya adalah film ini lebih ke thriller dibandingkan horor, karena dari trailer-nya pun saya ga merasakan ketakutan yang amat sangat. Tapi ternyata saya salah. Film ini adalah film horor terhoror yang pernah saya tonton. Film ini tidak perlu menunjukkan sosok hantu yang menyeramkan, sosok hantu yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan dan musik mencekam untuk membuat penontonnya bergidik. Jalan cerita yang sangat rapih dan tone film yang gloomy adalah beberapa kualitas terbaik yang disuguhkan “The Wailing.”

“The Wailing” menceritakan kisah sebuah kota kecil di Korea Selatan yang terkena wabah menyeramkan. Wabah tersebut terjadi setelah satu orang asing datang ke kota tersebut. Seorang polisi secara tidak sengaja terlibat ke dalamnya dan berusaha memecakan misteri tersebut untuk menyelamatkan putrinya.


Saya merasakan efek ketakutan yang lumayan awet setelah nonton “The Wailing.” Entah kenapa, salah satu sosok yang ada di film ini selalu terngiang-ngiang di kepala saya dan berhasil membuat saya tidak pernah menutup pintu kamar mandi selama beberapa hari. Adanya konektivitas antara jalan cerita di film dengan kepercayaan mengenai suatu ajaran agama membuat alur film ini lebih menegangkan. Yang menarik lainnya dari film ini adalah saya menjadi mempertanyakan siapa yang sebenarnya baik dan jahat di film ini. Dan jawabannya sukses membuat saya tercengang.


“The Wailing” sukses mendapatkan pujian dari beberapa film critics. Film ini juga berhasil mengantongi beberapa penghargaan dan nominasi dari beberapa ajang penghargaan bergengsi. Film ini juga ditampilkan di bagian Out of Competition-nya Festival Film Cannes. Di IMDB, film ini punya skor 7,5/10.

Monday, January 15, 2018

[Gem of the Week] Theories of Youth – Water Dispenser

I’m so glad I stumbled upon this song. This one is definitely a gem.


I love how the female member sang the lyric as if she’s talking and not singing. Will dig deeper into this duo and probably post more things about Theories of Youth.